Cargo Times

ABUPI Dorong Penerapan Solar Panel sebagai Strategi Green & Smart Port

Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pelabuhan nasional menuju operasi yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Dalam sebuah webinar bertema “Penerapan Solar Panel di Pelabuhan: Efisiensi Energi dan Daya Saing Berkelanjutan” yang diselenggarakan pada 28 November 2025, organisasi ini mendorong percepatan adopsi energi surya sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi sektor kepelabuhanan.

Webinar dibuka oleh Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati, dan dihadiri oleh para anggota, pemangku kepentingan pelabuhan, serta pelaku industri maritim. Dalam sambutannya, Liana menyoroti meningkatnya tuntutan global terkait Net Zero Emission (NZE) serta tingginya biaya energi konvensional yang hingga kini masih membebani operasional pelabuhan. Menurutnya, pemanfaatan energi terbarukan, khususnya solar panel, semakin relevan untuk menekan pengeluaran energi sekaligus meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di pasar global.

Diskusi inti menghadirkan dua narasumber: Donny Adolf, Ketua Bidang Komitmen Berkelanjutan ABUPI, serta Imam Rojani, Group Head of Sales PT Krakatau Chandra Energi. Keduanya memaparkan tiga alasan utama mengapa pelabuhan perlu mempertimbangkan penerapan energi surya dalam waktu dekat.

Pertama, efisiensi energi dipandang sebagai faktor penting dalam meningkatkan daya saing. Donny menjelaskan bahwa komponen biaya listrik memiliki porsi besar dalam operasional pelabuhan, baik untuk penerangan, fasilitas terminal, maupun dukungan peralatan bongkar muat. Dengan instalasi solar panel, pelabuhan dapat mengurangi penggunaan listrik dari jaringan utama secara signifikan. Selain menekan biaya, langkah ini juga sejalan dengan standar internasional Green & Smart Port yang kini menjadi acuan pelabuhan global.

Kedua, penerapan solar panel dinilai memiliki risiko investasi yang relatif rendah. Imam menyampaikan bahwa industri energi kini menyediakan berbagai model pembiayaan, termasuk skema investasi tanpa belanja modal awal (zero capex). Melalui skema ini, Badan Usaha Pelabuhan (BUP) dapat langsung menikmati penghematan biaya listrik tanpa harus mengeluarkan investasi besar di awal. Pendekatan tersebut disebut mampu mempercepat adopsi teknologi energi surya, terutama bagi pelaku usaha yang mempertimbangkan efisiensi jangka panjang.

Ketiga, energi surya menjadi fondasi penting dalam upaya menuju operasional pelabuhan rendah emisi. Donny menekankan bahwa transisi menuju Zero Emission Berth—dermaga yang memungkinkan kapal melakukan operasi tanpa emisi—akan sangat bergantung pada ketersediaan energi bersih di kawasan pelabuhan. Dengan memanfaatkan panel surya, pelabuhan Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam ekosistem Green Port internasional, sekaligus berkontribusi terhadap target dekarbonisasi nasional.

Melalui penyelenggaraan webinar ini, ABUPI menegaskan bahwa adopsi energi terbarukan bukan sekadar langkah pemenuhan regulasi lingkungan, tetapi juga strategi bisnis yang memberikan nilai tambah jangka panjang. Efisiensi biaya, pengurangan emisi, serta peningkatan daya saing menjadi manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh BUP.

ABUPI berharap semakin banyak pelabuhan yang mulai mengintegrasikan solusi solar panel dalam operasi mereka. Upaya ini tak hanya memperkuat transformasi menuju Green & Smart Port, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan industri kepelabuhanan Indonesia tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan global.

Exit mobile version