Cargo Times

Standarisasi ISO Didorong Menjadi Fondasi Daya Saing Pelabuhan Indonesia

Upaya memperkuat daya saing pelabuhan nasional kembali mendapat sorotan melalui webinar bertema “Pelabuhan Berstandar ISO: Membangun Kepercayaan, Meningkatkan Daya Saing” yang digelar Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI). Acara yang dihadiri anggota ABUPI serta pelaku industri maritim ini dibuka oleh Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati, yang menekankan pentingnya standarisasi sebagai landasan tata kelola jasa kepelabuhanan modern.

Dalam sambutannya, Liana menyampaikan bahwa penerapan standar ISO bukan sekadar tren global, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan konsistensi operasional di tengah meningkatnya kompetisi logistik internasional. Menurut dia, standar yang baik akan menghasilkan layanan yang andal, meminimalkan risiko, serta meningkatkan kepercayaan pengguna jasa. “Pelabuhan adalah simpul vital rantai pasok nasional. Tanpa standar yang kuat, kita akan sulit bersaing di kawasan,” ujarnya.

Webinar menghadirkan tiga narasumber yang telah lama berkecimpung dalam manajemen mutu dan standardisasi, yakni Senior Management System PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) Rohardik; Ketua Umum Indonesia ISO Expert Association (IIEA) Novian Amrah Putra; serta CEO PT Rifas Tabar Indonesia (RIIFAST), Safri Saipulloh. Diskusi berlangsung interaktif dan mengemuka tiga gagasan kunci mengenai implementasi ISO di lingkungan pelabuhan.

Pertama, para narasumber menegaskan bahwa standar ISO berperan penting dalam membangun kepercayaan pengguna jasa. Melalui penerapan prosedur yang terstruktur, operator pelabuhan dapat mengendalikan risiko operasional sekaligus memperkuat aspek keselamatan dan keamanan. Dalam industri yang mengelola arus barang bernilai tinggi, kepastian proses menjadi salah satu faktor penentu kualitas layanan.

Kedua, kredibilitas lembaga sertifikasi menjadi elemen krusial. Sertifikat hanya memiliki nilai jika diterbitkan lembaga yang memiliki akreditasi internasional dan diakui industri global. Karena itu, BU Pelabuhan didorong lebih selektif dalam memilih lembaga sertifikasi serta menjadikan proses sertifikasi sebagai sarana pembelajaran berkelanjutan. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mengejar label ISO, tetapi juga benar-benar meningkatkan kinerja operasional.

Ketiga, implementasi ISO perlu dijalankan secara efektif dan tidak berhenti pada tahap dokumentasi. Gap assessment yang menyeluruh, komitmen manajemen, penyusunan dokumen yang relevan, serta budaya perbaikan berkelanjutan menjadi prasyarat utama keberhasilan. ISO dipandang sebagai framework yang hidup, yang harus terus diperbarui mengikuti dinamika operasional pelabuhan.

Inisiatif ini sejalan dengan agenda ABUPI untuk memperkuat penerapan sistem manajemen berbasis ISO di kalangan Badan Usaha Pelabuhan. ABUPI menilai, penguatan standar manajemen akan berkontribusi pada efisiensi operasional, peningkatan kredibilitas layanan, serta pengembangan ekosistem logistik yang lebih kompetitif. Dengan standar yang lebih solid, pelabuhan Indonesia diharapkan mampu bersaing di tingkat regional maupun global, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui kegiatan seperti webinar ini, ABUPI berharap semakin banyak BU Pelabuhan yang menyadari bahwa standarisasi merupakan investasi jangka panjang. Bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pasar, tetapi juga untuk memperkuat fondasi sistem logistik nasional yang andal dan berkelanjutan.

Exit mobile version