Upaya memperkuat keselamatan, efisiensi, dan daya saing pelabuhan kembali menjadi sorotan dalam sektor maritim Indonesia. Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menegaskan pentingnya standar alat dan infrastruktur pelabuhan melalui penyelenggaraan webinar bertajuk “Standarisasi Alat Pelabuhan: Pondasi untuk Operasional Aman, Efisien, dan Berdaya Saing.” Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda strategis organisasi dalam mendorong modernisasi dan keseragaman operasional di berbagai pelabuhan.
Webinar dibuka oleh Wakil Ketua Umum I ABUPI, Ari Purboyo, dan diikuti oleh anggota asosiasi serta para pelaku industri maritim. Dalam pengantar pembukaannya, Ari menyoroti bahwa percepatan transformasi pelabuhan nasional masih dihadapkan pada sejumlah tantangan mendasar. Mulai dari beragamnya standar inspeksi, perbedaan spesifikasi alat, hingga minimnya integrasi data operasional antarpelabuhan. Menurutnya, disparitas itu menyebabkan inefisiensi dan meningkatkan risiko kecelakaan, sehingga kebutuhan akan standarisasi tidak lagi dapat ditunda.
Sesi diskusi menghadirkan tiga narasumber yang mewakili aspek teknis, operasional, dan industri alat pelabuhan. Mereka adalah Wien Goerindro, Ketua Bidang Standarisasi Alat & Sistem Pelayaran ABUPI; Ardhian Budi Sulistyo, Senior Manager Operasi Marine-SBU PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI); serta Rinto Agustino, CEO PT Soborejo. Ketiganya menyoroti urgensi penataan standardisasi secara menyeluruh, baik dari sisi peralatan, infrastruktur, maupun prosedur operasional.
Wien Goerindro menegaskan bahwa standar alat dan operasional merupakan pondasi penting untuk memastikan layanan pelabuhan berjalan aman dan efisien. Menurutnya, banyak pelabuhan di Indonesia masih menggunakan alat bongkar muat dengan spesifikasi yang tidak seragam. Hal itu menyebabkan perbedaan kualitas layanan serta memunculkan potensi gangguan operasional. Selain alat bongkar muat, infrastruktur dermaga dan standar prosedur kerja juga dinilai membutuhkan pembaruan agar sesuai dengan praktik terbaik internasional.

Sementara itu, Ardhian Budi Sulistyo menjelaskan peran BKI sebagai lembaga klasifikasi nasional dalam memastikan kelayakan alat dan fasilitas pelabuhan. Ia memaparkan bahwa BKI menerapkan berbagai metode pengujian, mulai dari inspeksi visual, load test, hingga non-destructive test (NDT) untuk menilai integritas struktur. Sertifikasi yang diberikan, menurut Ardhian, bukan hanya memenuhi persyaratan regulasi, melainkan juga menjadi jaminan keselamatan bagi operator maupun pengguna jasa pelabuhan. “Instrumen pengujian yang tepat dapat mengurangi risiko kegagalan alat sekaligus meningkatkan keandalan operasional,” ujarnya.
Dalam aspek perawatan infrastruktur, Rinto Agustino menekankan bahwa dermaga sebagai critical infrastructure memerlukan pemeliharaan yang konsisten. Banyak kasus kerusakan dermaga, kata Rinto, bukan disebabkan oleh usia konstruksi, melainkan oleh perawatan yang tidak mengikuti standar teknis. Ia menilai bahwa pola perawatan yang tepat dan terjadwal menjadi kunci panjangnya usia pakai infrastruktur serta keandalan layanan. “Masalah utama sering kali bukan pada konstruksi awal, tetapi pada bagaimana infrastruktur itu dirawat,” tambahnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menegaskan bahwa standarisasi bukan sekadar dokumen teknis, melainkan fondasi penting dalam menciptakan ekosistem pelabuhan yang aman, modern, dan kompetitif. Dengan standar yang seragam, pelabuhan dapat mengurangi downtime, meningkatkan keselamatan pekerja, serta memberikan kepastian operasional bagi pengguna jasa, baik domestik maupun internasional.

ABUPI menyatakan akan mendorong penyusunan dan adopsi standar peralatan dan layanan secara lebih sistematis di seluruh Badan Usaha Pelabuhan. Langkah ini diharapkan menjadi katalis penting untuk penguatan daya saing logistik Indonesia sekaligus meningkatkan posisi pelabuhan nasional dalam rantai pasok global.
Melalui webinar ini, ABUPI menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak peningkatan kualitas operasional pelabuhan. Standardisasi alat dan infrastruktur dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk menjawab tantangan keandalan layanan dan keselamatan operasional. Dengan upaya bersama antara asosiasi, pelaku industri, serta lembaga sertifikasi, sektor pelabuhan Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menuju standar layanan yang lebih modern, efisien, dan mampu bersaing di tingkat global.
