Rencana penerapan e-pilotage dalam kegiatan pemanduan kapal dinilai tidak akan menghilangkan peran pandu di Indonesia. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta memudahkan pekerjaan perusahaan yang bergerak di bidang pemanduan.
Hal itu disampaikan sejumlah narasumber dalam diskusi yang digelar di sela-sela International Maritime Pilots’ Association (IMPA) Congress di Bali, Senin (23/8).

Presiden Indonesia Maritime Pilots’ Association (INAMPA) Herman Harianja mengatakan, penerapan e-pilotage justru membutuhkan tenaga pandu untuk mengoperasikan sistem tersebut.
Menurut dia, kebutuhan tenaga pandu di Indonesia saat ini masih cukup tinggi. Dengan demikian, kehadiran teknologi tidak serta-merta menggantikan peran pandu.
“Kami (pandu anggota INAMPA) tetap akan dibutuhkan. Meski diterapkan e-pilotage, tenaga pandu tetap yang akan mengoperasikan sistem itu sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” ujar Herman.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Achmad Muchtasyar, membenarkan bahwa perusahaan masih kekurangan tenaga pandu.
“Kebutuhan pandu sekitar 600 tenaga, tetapi kami baru ada 500 pandu sehingga masih sangat kurang,” katanya.
Terkait penerapan e-pilotage, Achmad mengatakan sistem elektronik tersebut berpotensi membuat layanan pemanduan menjadi lebih efisien dan murah.
“Pasti tarif akan lebih murah,” ujarnya.
Direktur Kelembagaan PT Pelindo Hendri Ginting mengatakan, Pelindo masih akan melakukan uji coba sebelum menerapkan sistem tersebut secara lebih luas. Uji coba akan dilakukan pada sejumlah alur sungai untuk memastikan sistem berjalan aman dan sesuai dengan kebutuhan operasional.
“Kami masih uji coba dulu. Kami evaluasi sampai benar-benar siap,” katanya.
Diujicobakan di Empat Pelabuhan
PT Pelindo berencana menguji coba e-pilotage di empat pelabuhan, yakni Tanjung Perak, Banjarmasin, Belawan, dan Samarinda.
Direktur Operasi PT Pelindo Prasetyadi mengatakan, uji coba ditargetkan mulai September 2026.
“Target uji coba bulan September 2026 sudah dilakukan di empat pelabuhan. Mudah-mudahan bisa berjalan sesuai harapan,” ujar Prasetyadi kepada Ocean Week di Bali, Senin (23/8).
Menurut dia, penerapan e-pilotage nantinya juga diharapkan dapat menekan biaya layanan pemanduan dibandingkan dengan sistem manual yang berjalan saat ini.
Samarinda sebelumnya telah dijadikan salah satu model percontohan dalam program transformasi penguatan keselamatan operasional pemanduan pelabuhan di Indonesia.
“Pengalaman Samarinda menunjukkan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan secara disiplin dapat memberikan hasil terukur,” kata Prasetyadi.
Pengelolaan tersebut, lanjut dia, berhasil menekan angka insiden kerusakan properti hingga 67 persen dibandingkan periode operasional sebelumnya. Capaian itu diperoleh melalui penguatan mitigasi risiko, khususnya di area pelintasan Jembatan Mahakam yang memiliki tingkat kerawanan operasional cukup tinggi.
Prasetyadi menegaskan, keselamatan merupakan fondasi utama dalam menjaga keandalan layanan kepelabuhanan sekaligus mendukung kelancaran arus logistik nasional.
Peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan kerja, menurut dia, merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus ditopang oleh kompetensi, profesionalisme, integritas, serta kepatuhan terhadap prosedur operasi standar.
“Kami mencatat bahwa aspek keselamatan operasional selalu dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling terkait, mulai dari kualitas sumber daya manusia hingga kondisi lingkungan sekitar,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat keselamatan, Pelindo mewajibkan pengarahan keselamatan secara komprehensif sebelum kegiatan operasional pemanduan kapal dimulai.
Transformasi keselamatan tersebut juga didukung pemanfaatan teknologi, antara lain sensor dan sistem telemetri untuk memantau aktivitas operasional secara waktu nyata.
Pandu Tetap Naik di Alur Berisiko
Direktur Utama PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) Arief Hermawan membenarkan bahwa e-pilotage akan diuji coba di empat pelabuhan.
Namun, penerapan sistem elektronik tersebut tidak berarti seluruh kegiatan pemanduan dilakukan tanpa kehadiran pandu di kapal.
“Untuk alur sungai yang sekiranya masih berbahaya, pandu tetap naik di titik yang ditentukan,” ujar Arief saat menghadiri IMPA Congress di Bali, Senin (23/8).
Menurut dia, aspek keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan penerapan e-pilotage. Ia berharap uji coba tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga sistem dapat diterapkan secara optimal tanpa mengurangi standar keselamatan pelayaran.
Dengan demikian, e-pilotage diposisikan sebagai bagian dari transformasi teknologi dalam layanan pemanduan, bukan sebagai pengganti tenaga pandu.
