Thursday, 11 February 2021
Kementerian BUMN Dukung Penuh Langkah Garuda Indonesia Batalkan Kontrak Pesawat Bombardier CRJ 1000

Kementerian BUMN mendukung penuh langkah strategis salah satu BUMN sekaligus flag carrier, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (Garuda) dalam penyelesaian kontrak sewa atas 12 dari total 18 armada Bombardier CRJ 1000 yang dilakukan melalui proses negosiasi early termination.

Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, efisiensi menjadi kunci di segala lini. Karena itu, penyelesaian kontrak sewa pesawat Bombardier CRJ 1000 tersebut menjadi salah satu bentuk efisiensi bagi Garuda.

"Dari data-data dapat disimpulkan bahwa Garuda Indonesia menjadi salah satu perusahaan penerbangan yang leasing cost nya paling tinggi di dunia, yaitu sebanyak 27%. Karena itu, saya dengan tegas mendukung Manajemen Garuda untuk mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 dan mengakhiri kontrak dengan NAC yang memang jatuh temponya pada 2027 nanti," kata Erick saat konferensi pers virtual bersama media, Rabu, (10/2).

Sebagai informasi, dari 18 armada Bombardier CRJ 1000 yang dioperasikan Garuda saat ini, sebanyak 12 armada menggunakan skema operating lease dari lessor Nordic Aviation Capital (NAC), perusahaan lessor pesawat yang berbasis di Denmark. Sementara itu, 6 armada lainnya menggunakan skema financial lease dengan Export Development Canada (EDC) dari Kanada.

Masa sewa 12 armada Bombardier CRJ 1000 milik NAC tersebut adalah 12 tahun, dimana delivery armada dilakukan pada tahun 2012-2015, sehingga pesawat terakhir yang diterima Garuda memiliki masa sewa hingga 2027. Sementara, 6 armada CRJ 1000 lainnya memiliki kontrak 10 tahun dengan periode jatuh tempo hingga 2024.

Kurang sesuainya jenis dan spesifikasi pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan market Indonesia mengakibatkan kinerja komersial yang tidak optimal. Untuk memperoleh biaya sewa yang terbaik dan relevan dengan kondisi Perusahaan (Garuda) dan pasar, negosiasi telah dilakukan dengan pihak lessor sejak awal tahun 2020 lalu.

Dari hasil negosiasi, terdapat beberapa kewajiban yang perlu dipenuhi Garuda untuk melakukan early termination, termasuk di dalamnya melakukan pembayaran early termination fee dan pemenuhan kondisi redelivery pesawat secara teknis. Namun, hingga Garuda memutuskan untuk stop operasi armada CRJ 1000 pada 1 Februari 2021, penawaran early payment oleh Garuda tidak dapat diterima/tidak dapat disetujui oleh pihak lessor. Hal ini menjadi landasan Garuda memutuskan secara sepihak kontrak sewa pesawat 12 armada Bombardier CRJ 1000.

"Selain itu, bagaimana kami juga mempertimbangkan tata kelola perusahaan yang baik, transparan, akuntabilitas, dan profesional, dimana melihat keputusan KPK (Komisis Pemberantasan Korupsi) dan Serious Fraud Office (SFO) dari Inggris terhadap indikasi pidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda saat proses pengadaan pesawat CRJ 1000 tahun 2011 lalu. Jadi, poin-poin inilah yang menjadi landasan," tegas Erick.

Di sisi lain, untuk 6 armada CRJ 1000 yang saat ini dioperasikan dengan skema financial lease, Garuda juga telah mengupayakan langkah negosiasi bersama EDC dengan mekanisme early payment settlement sesuai dengan kemampuan perusahaan. “Saat ini, Garuda Indonesia sedang menunggu jawaban dari EDC atas penawaran perusahaan untuk melakukan cash settlement sebesar USD 5 juta dari total kewajiban Garuda Indonesia sebesar USD 46 juta”, Irfan menjelaskan.

Selama 8 tahun beroperasi, penggunaan Bombardier CRJ 1000 menciptakan kerugian yang cukup besar untuk Garuda. Irfan menambahkan, apabila tetap digunakan, potensi kerugian yang muncul akan lebih besar. Karena itu, meskipun ada konsekuensi, Irfan menegaskan, pihaknya siap menanganinya secara profesional. "Pemberhentian secara terpihak akan menciptakan konsekuensi terpisah. Kami siap untuk menangani konsekuensi tersebut secaraa profesional," tutup Irfan.

Author: Martin Jop
GO Ina

Pembukaan layanan ini mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, sekaligus menjadikan Kertajati sebagai pusat logistik nasional.

Details
February 27, 2021

Efisiensi di segala lini, serta kurang sesuainya jenis dan spesifikasi pesawat dengan market Indonesia mengakibatkan kinerja tidak optimal.

Details
February 11, 2021

Tahap awal ini akan digunakan sebanyak 20 unit sepeda motor listrik (EV), terdiri dari 10 Unit di Bandung, dan 10 Unit di Denpasar.

Details
February 10, 2021

Melalui program bantuan kemanusiaan J&T Express berkolaborasi bersama organisasi Aksi Cepat tanggap (ACT) menyediakan sejumlah bantuan.

Details
February 5, 2021

GENERAL NEWS