Breaking News:
Wednesday, 26 March 2025
Mega Trans Nusantara Siap Memberikan Solusi Kebutuhan Penerbangan Komersial dengan Jitu, Profesional dan Berkualitas

Sejak wabah pandemi COVID-19 mulai surut di berbagai negara, pembatasan perjalanan, penutupan destinasi, dan pengurangan frekuensi penerbangan internasional, mulai dilonggarkan pada tahun 2022. Dampaknya di Indonesia, perlahan-lahan perekonomian nasional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama sektor pariwisata dan logistik. Salah satu indikator pemulihan yang penting adalah jumlah penerbangan baik domestik maupun internasional yang kembali beroperasi makin banyak.

Sektor pariwisata, pembukaan jalur penerbangan internasional memainkan peran penting dalam mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Sementara di sektor logistik, mendorong peningkatan ekspor dan impor barang, yang memberikan efek investor yang membangun usaha manufaktur dan tumbuhnya berbagai bisnis lainnya, terutama pesatnya tren bisnis e-commerce.

Sampai saat ini, selain penerbangan domestik, berbagai destinasi di Indonesia mulai dilayani oleh penerbangan internasional. Destinasi potensial lainnya di Indonesia juga bersiap menjadi lirikan penerbangan internasional.

Oleh karena itu, untuk membuat lancar segala urusan di negara yang menjadi ekspansi bisnisnya, maskapi internasional melakukan kerja sama atau menunjuk perwakilan resmi maskapai di wilayah atau negara tertentu, untuk menjalin hubungan dengan agen perjalanan dan pelanggan.

“Disinilah peran General Sales Agent (GSA) sangat penting dalam membantu maskapai, baik yang on-line atau off-line, untuk menjangkau pasar baru dan memperluas jangkauan penjualan mereka. Karena GSA itu sendiri punya pemahaman yang lebih baik tentang fakta-fakta pasar lokal, yang pada akhirnya dapat membantu maskapai itu untuk menyusun dan menyesuaikan strategi penjualan mereka,” kata Dede Hartono, Assistant Director PT. Mega Trans Nusantara mengenai peran GSA kepada Cargo Times yang melakukan interview ekslusif melalui email.

Banyak GSA ada di Indonesia, kata Dede, namun salah satunya Mega Trans Nusantara (MTN) adalah perusahaan GSA profesional yang sudah berpengalaman, terbukti, dan teruji waktu di berbagai sektor Penerbangan dan Pariwisata komersial.

“Mengapa berpengalaman ? Karena MTN telah beroperasi sejak tahun 2002. Selain fokus pada GSA (Pax & Cargo), lanjut Dede, MTN juga mempunyai bidang usaha lainnya seperti Freight Forwarders, Charter Flight , Health Care, Property, dan lain-lain,” tambah Dede

Sebagai perusahaan group, MTN menjalankan aktivitas penjualan, tiket, broker kustom, kargo, transportasi (bus Pariwisata) dan staf admin di seluruh jaringan, memberikan dukungan pemasaran dan penjualan, reservasi, tiket, bantuan kargo, kurir, inbound dan outbound tour, hotel, transportasi dan staf lain yang terkait dengan bisnis di bawah grup MTN selain itu, juga memiliki hubungan baik dengan Kementrian Perhubungan, Kementrian Pariwisata dan lain-lain, Bantuan kru penerbangan dan bantuan operasi lainnya untuk penerbangan charter khusus, izin penerbangan, ground handling, bantuan penumpang khusus dan fungsi staf lainnya yang terkait dengan dunia aviasi / penerbangan.

“Seperti umumnya pendirian perusahaan yang berkaitan dengan sektor transportasi udara, untuk mendirikan perusahaan GSA, MTN harus punya ijin dari Kementrian Perhubungan dan instansi terkait lainnya, yaitu Izin Usaha Agen Penjualan Umum (GSA),” kata Dede.

Ketika ditanyakan Cargo Times mengenai perbedaan dua jenis aktivitas perusahaan perwakilan maskapai, antara GSA dan GSSA, Dede menyampaikan kalau GSA hanya fokus pada produk maskapai, seperti penjualan tiket penerbangan dan kargo, di wilayah tertentu. “Sedangkan GSSA (General Sales and Service Agent), selain penjualan produk, mereka juga menangani langsung layanan operasional dan administrasi untuk maskapai, seperti pengelolaan kapasitas kargo dan supervisi operasional,” jelasnya.

Lanjut Dede, ada 5 kriteria utama yang dipertimbangkan pada saat maskapai menunjuk perusahaan perwakilannya sebagai GSA di suatu negara, yaitu, pertama, GSA harus memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar lokal, termasuk budaya, regulasi, dan kebutuhan pelanggan (Paham situasi pasar lokal). Kedua, GSA yang baik memiliki hubungan yang luas dengan biro perjalanan, klien korporat, kontak industri lainnya, atau pelanggan komunitas / individu (Jaringan yang Kuat).

“Kriteria ketiga, GSA harus memiliki sumber daya yang memadai untuk menangani penjualan, promosi, dan dukungan pelanggan (Kemampuan Operasional),” kata Dede.

Lalu, kriteria keempat, harus punya reputasi yang baik dan rekam jejak yang solid dalam industri penerbangan (Reputasi dan Kredibilitas). Dan kriteria kelima, GSA dapat memberikan layanan berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih rendah (Efisiensi Biaya).

“Sampai dengan saat ini, MTN ditunjuk dan dipercaya sebagai GSA, Malaysia Airlines (MH) khusus passenger. Lalu, Cargo Sales Agent (CSA) dari maskapai Batik Air Malaysia (Malindo), serta, GSA dari BBN Airlines Indonesia, baik passenger maupun Kargo,” jelas Dede, yang dahulu pernah menjadi Person In Charge (PIC) dari maskapai Kuwait Airlines.

Sekarang MTN telah memperkerjakan sekitar 45 orang karyawan profesional. MTN punya kantor pusat di Jalan Tomang Raya, Jakarta dan punya kantor cabang di Surabaya, Medan, Bali, Aceh, dan Balikpapan .

“Sebagai Perusahaan yang professional di bidangnya (GSA dan aktivitas usaha lainnya), MTN tentu dituntut mempunyai Sumber Daya Manusia yang professional. Mulai dari proses perekrutan awal hingga penempatan SDM. Kita juga mendukung pengembangan SDM, dengan adanya ruangan pendidikan dan latihan di kantor pusat Jakarta,” jelas Dede.

Selain itu, tambah Dede, eksistensi SDM di perusahaan, juga dilakukan dengan perekrutan dari kalangan profesional yang sudah ahli di bidangnya. Khusus untuk bidang penerbangan komersial, mereka minimal sudah pernah bekerja di airlines, travel agent, terminal penumpang dan pergudangan di bandara, dan bidang lainnya.

“Tentunya dengan perpaduan itu (SDM fresh graduate dan profesional), MTN mampu menjabarkan strateginya dengan jelas, mengoperasikan semua pekerjaan dengan lancar, dan menjawab semua tantangan pekerjaan dengan solusi yang jitu. Semua itu dilakukan dengan harapan agar MTN dapat mencapai target yang diinginkan, yang memuaskan tidak hanya manajemen, namun yang lebih utama adalah kepuasan pelanggan / klient kami,” tutup Dede.

Author: Martin Jop
GO Ina

Puncak pergerakan tercatat pada H-3 Lebaran, yakni Jumat, 28 Maret 2025, dengan total penerbangan mencapai 1.179 dan jumlah penumpang mencapai 184.000 orang.

Details
March 29, 2025

Kegiatan ini adalah bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Details
March 29, 2025

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan memperkuat konektivitas udara di Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat melalui

Details
March 28, 2025

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meninjau sarana dan prasarana transportasi udara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (27/3).

Details
March 27, 2025

GENERAL NEWS